MAKALAH ILMU EKONOMI MAKRO ISLAM
FUNGSI PRODUKSI DAN BIAYA PRODUKSI DALAM JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG
OLEH :
MAHDALENA WINDI MARDIAH 2030402054
Dosen Pengampu
DR.H.SYUKRI ISKA, M.AG
TEZI ASMADIA
EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR
2021/2022.
A. PRINSIP-PRINSIP PRODUKSI
Pada prinsipnya kegiatan produksi terkait seluruhnya dengan syariat Islam, di mana seluruhkegiatan produksi harus sejalan dengan tujuan dari konsumsi itu sendiri. Konsumsi seorang muslim dilakukan untuk mencari falah(kebahagiaan), demikian pula produksi dilakukan untuk menyediakan barang dan jasa gunafalah tersebut.Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw memberikan arahan mengenai prinsip-prinsip produksi, yaitu sebagai berikut:
1.Tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah adalah memakmurkan bumi dengan ilmu dan amalnya. Allah menciptakan bumi dan langit berserta segala apa yang ada di antara keduanya karena sifat Rahmāndan Rahīm-Nya kepada manusia. Karenanya sifat tersebut juga harus melandasi aktivitas manusia dalam pemanfaatan bumi dan langitdan segala isinya.
2.Islam selalu mendorong kemajuan di bidang produksi. Menurut YusufQardhawi, Islam membuka lebar penggunaan metode ilmiah yang didasarkan pada penelitian, eksperimen, dan perhitungan. Akan tetapi Islam tidak membenarkan pemenuhan terhadap hasil karya ilmu pengetahuan dalam arti melepaskan dirinya dari al-Qur’an dan Hadits.10
3.Teknik produksi diserahklan kepada keinginan dan kemampuan manusia.Nabi pernah bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”.
4.Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama Islam menyukai kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat. Dalam Islam tidak terdapat ajaran yang memerintahkanmembiarkan segala urusan berjalan dalam kesulitannya, karena pasrah kepada keberuntungan atau kesialan, karena berdalih dengan ketetapan-Nya, sebagaimana keyakinan yang terdapat di dalam agama-agama selain Islam. Seseungguhnya Islam mengingkari itu semua dan menyuruh bekerja dan berbuat, bersikap hati-hati dalam melaksanakannya. Tawakal dan sabar adalah konsep penyerahan hasil kepada Allah SWT. Sebagai pemilik hak prerogatif yang menentukan segala sesuatu setelah segala usaha dipenuhi dengan optimal
B. FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI
Macam faktor produksi secara teori terbagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut:1.Sumber Daya AlamAllah Swt menciptakan alam yang di dalamnya mengandung banyak sekali kekayaan yang bisa dimanfaatkan manusia. Manusia sebagai mahluk Allah hanya bisa mengubah kekayaan tersebut menjadi barang kapital atau pemenuhan yang lain. Menurut ekonomi Islam jika alam dikembangkan dengan kemampuan dan tekhnologi yang baik, maka Alam dan kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak akan terbatas. Berbeda dengan pandangan ilmu ekonomi konvensional, yang menyatakan kekayaan alam terbatas karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Islam memandang kebutuhan manusialah yang terbatas dan hawa nafsu yang tidak terbatas.2.Tenaga KerjaTenaga kerja menentukan kualitas dan kuantitas suatu produksi. Dalam Islam tenaga kerja tidak terlepas dari moral dan etika dalam melakukan produksi agar tidak merugikan orang lain. Dan sebagai tenaga kerja mereka memiliki hak untuk mendapatkan gaji atas kerja yang telah mereka lakukan. Bahkan Allah Swt mengancam tidak akan memberikan perlindungan di hari kiamat pada orang yang tidak memberikan upah pada pekerjanya. Memberikan upah yang layak dalam syariat Islam tidaklah mudah, para ahli memiliki perbedaan pendapat mengenai upah ini, ada yang berpendapat penentuan upah adalah standart cukup, maksudnya sebatas dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada juga yang berpendapat penentuan upah bergantung pada konstribusi mereka pada produksi. Sebagian berpendapat penentuan upah dengan melihat manfaat yang diberikan dan tidak menzalimi pekerja. Menurut al-Nabani berpendapat penentuan upah berdasarkan keahliannya. 3.Modal adalah segala kekayaan baik yang berwujud uang maupun skill
Pemilik modal harus berupaya memproduktifkan modalnya dan bagi yang tidak mampu menjalankan usaha, Islam menyediakan bisnis alternatif seperti Mudhārabah, Musyārakah, dan lain-lain.4.Organisasi (manajemen)Dalam sebuah produksi hendaknya terdapat sebuah organisasi untuk mengatur kegiatan dalam perusahaan. Dengan adanya organisasi setiap kegiatan produksi memiliki penanggung jawab untuk mencapai suatu tujuan perusahaan. Diharapkan semua individu dalam sebuah organisasimelakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan tugas yang diberikan.
C. BIAYA PRODUKSI
Dalam operasional bisnis, pengertian biaya produksi adalah sejumlah dana yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka melakukan pengolahan dan produksi bahan baku demi terciptanya suatu produk.
Biaya produksi diperlukan untuk mengetahui harga jual suatu produk. Setelah seluruh biaya produksi dihitung, perusahaan bisa membaginya dengan total output yang dihasilkan dari biaya tersebut dan menetapkan harga lengkap dengan margin labanya.
Jenis Jenis Biaya Produksi
Secara garis besar, biaya produksi perusahaan ada dua jenis, yaitu biaya produksi eksplisit dan implisit. Selengkapnya tentang penjelasan dua jenis biaya produksi tersebut adalah sebagai berikut.
Biaya Eksplisit (Langsung)
Biaya eksplisit atau langsung merupakan jenis biaya produksi yang dialokasikan perusahaan dalam membeli sejumlah kebutuhan dengan pembayaran tunai. Dalam hal ini, contoh biaya produksi adalah pembelian bangunan, tanah, mesin, gaji karyawan, dan bahan baku.
Jenis biaya produksi eksplisit akan dicatat secara langsung dalam laporan keuangan. Besaran biaya langsung seringkali berbeda setiap waktunya. Mengingat harga bahan baku atau kebutuhan lainnya mengalami naik turun.
Biaya Implisit (Tersembunyi)
Terakhir, jenis biaya produksi adalah biaya implisit (tersembunyi). Biaya implisit merupakan pengeluaran perusahaan dalam memberikan fasilitas produksi tanpa mempengaruhi proses manufaktur secara langsung. Namun hasilnya dirasakan dalam jangka panjang. Biasanya biaya tidak langsung ini dimasukkan dalam biaya overhead. Contoh biaya produksi eksplisit yaitu perawatan mesin, pelatihan SDM, biaya sewa, dan sebagainya.
Komponen Biaya Produksi
Komponen biaya produksi terdiri dari biaya tetap, variabel, rata-rata, marginal, dan total. Berikut penjelasan masing-masing komponen biaya produksi.
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah komponen biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan besaran tetap dan tidak akan berubah walaupun kapasitas produksi meningkat atau menurun. Keuntungannya, perusahaan dapat membuat anggaran dana secara pasti. Contoh biaya produksi tetap yaitu sewa pabrik, gaji SDM bulanan, modal mendirikan bangunan.
Biaya Variabel (Variable Cost)
Terdapat beberapa pengeluaran yang tidak bisa dipastikan besaran nominalnya karena akan mengalami perubahan. Dalam hal ini, komponen biaya produksi adalah biaya variabel.
Besaran biaya variabel tergantung jumlah output. Saat tingkat produksi semakin tinggi, maka biaya variabel juga ikut meningkat. Sebaliknya, jumlah produksi rendah, maka biaya variabel akan menurun. Tetapi, biaya variabel hanya dibutuhkan ketika proses produksi sedang berlangsung. Contoh biaya variabel yaitu bahan baku.
Biaya Rata-Rata (Average Cost)
Biaya rata-rata adalah hasil pembagian total pengeluaran dan besaran hasil produksi besaran sehingga didapatkan harga per satuan produk. Dengan biaya tersebut, perusahaan dapat mengukur persentase laba.
Biaya Marginal
Selanjutnya, komponen biaya produksi adalah biaya marginal. Biaya marginal merupakan biaya pengeluaran modal perusahaan dilakukan secara fleksibel. Biasanya, biaya marginal dikategorikan sebagai biaya tambahan agar produksi meningkat. Perhitungannya akan ditambahkan bersama biaya variabel.
Tujuan alokasi biaya marginal yaitu agar perusahaan mampu memaksimalkan aktivitas operasional sehingga mendapat keuntungan lebih tinggi. Dalam komponen ini, contoh biaya produksi adalah saat terjadi peningkatan kuantitas produksi sehingga diadakan biaya marginal.
Biaya Total
Biaya total merupakan komponen biaya produksi dari penjumlahan biaya variabel dan campuran. Perhitungan biaya total dilakukan setelah produksi selesai. Hasil akhir ini merupakan total dana yang dikeluarkan perusahaan selama proses produksi dan akan diolah sebagai pertimbangan penetapan harga jual.
Unsur Biaya Produksi
Proses produksi tidak hanya melibatkan pengolahan bahan baku saja. Terdapat unsur lain yang patut diperhitungkan dalam biaya produksi. Oleh sebab itu, beberapa unsur biaya produksi wajib ada, antara lain:
Biaya Bahan Baku
Bahan baku merupakan aspek terpenting dalam produksi suatu produk. Sehingga unsur biaya produksi adalah biaya bahan baku. Biaya pengeluaran ini digunakan dalam memenuhi kebutuhan bahan material/baku agar terciptanya suatu produk. Hasilnya, bahan baku ini terlihat secara fisik.
Biaya Sumber Daya Manusia
Dalam proses pengolahan bahan baku menjadi suatu produk memerlukan bantuan mesin dan tenaga manusia. Keterlibatan sumber daya manusia membuat perusahaan wajib memberikan upah sebagai ganti tenaga yang telah dikeluarkan. Sehingga, unsur biaya produksi adalah biaya sumber daya manusia. Biaya ini dikeluarkan oleh perusahaan dalam bentuk gaji bulanan atau dalam periode tertentu sesuai kesepakatan.
Biaya Overhead Pabrik
Terakhir, unsur biaya produksi adalah biaya overhead pabrik. Biaya overhead pabrik merupakan pengeluaran perusahaan terhadap kebutuhan manufaktur dan secara tidak langsung berkaitan dengan hasil produksi. Dapat dikatakan, biaya overhead pabrik yaitu besaran dana untuk keperluan penunjang proses produksi. Dari penjelasan tersebut, contoh biaya produksi adalah biaya listrik, perawatan mesin pabrik, dan sebagainya.
Teori Biaya Produksi
Sebelum menginjak pembahasan cara menghitung biaya produksi, sebaiknya Anda perlu mengetahui teori biaya produksi. Adapun penjelasan teori biaya produksi adalah sebagai berikut.
Full Costing
Teori biaya produksi pertama yakni full costing. Full costing adalah metode perhitungan biaya produksi dengan menjumlahkan seluruh unsur biaya produksi dalam perilaku tetap dan variabel. Jadi seluruh biaya bahan baku, sumber daya manusia, dan overhead akan dijumlah hingga menghasilkan biaya full costing.
Variable Costing
Ada pula cara perhitungan biaya produksi hanya melibatkan biaya variabel saja dengan unsur biaya produksi sama. Kondisi demikian masuk dalam teori biaya produksi adalah variable costing. Namun sangat jarang perusahaan menggunakan metode tersebut karena biaya tetap tidak akan muncul nantinya.
Cara Menghitung Biaya Produksi
Setelah mengetahui berbagai jenis biaya produksi, di bawah ini dijelaskan cara menghitung biaya produksi sehingga Anda bisa menetapkan harga jual suatu produk.
Tentukan Penggunaan Teori Biaya Produksi
Pertama, cara menghitung biaya produksi adalah menentukan penggunaan teori biaya produksi. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan teori biaya produksi untuk digunakan dalam perhitungan akhir. Anda dapat menyesuaikan kondisi keuangan perusahaan dengan teori biaya produksi yang cocok.
Susun dan Total Pembelian Bahan Baku
Setelah menentukan metode yang tepat, silahkan buat list seluruh bahan baku terbeli beserta harga per satuannya. Kemudian, jumlahkan seluruh harga pembelian bahan baku. Adapun rumus biaya produksi adalah berikut ini:
Sisa awal bahan baku + pembelian bahan baku – sisa akhir bahan baku = biaya bahan baku telah digunakan
Rincikan dan Jumlahkan Biaya SDM
Langkah selanjutnya yaitu membuat perhitungan rinci terkait jumlah sumber daya manusia yang dipekerjakan beserta posisi dan besaran upah masing-masing. Lalu, total seluruh gaji masing-masing tenaga kerja. Hasil akhir tersebut merupakan biaya sumber daya manusia dan digunakan dalam perhitungan harga produksi.
Buat Perhitungan Biaya Overhead
Berikutnya, perhitungan unsur biaya produksi adalah biaya overhead. Setiap periode produksi bisa saja alokasi dan besaran biaya ini berbeda-beda. Catat seluruh pengeluaran biaya overhead secara terperinci baik kuantitas dan harganya. Buat perhitungan biaya dari seluruh pengeluaran tersebut.
Jumlahkan Seluruh Biaya Pengeluaran
Semua besaran total masing-masing unsur biaya produksi telah diketahui. Selanjutnya, cara menghitung biaya produksi adalah melakukan penjumlahan seluruh biaya pengeluaran baik secara variabel atau tetap. Anda bisa menerapkan rumus biaya produksi di bawah ini dalam perhitungannya.
Total Biaya Produksi = Total Biaya Bahan Baku + Total Biaya Sumber Daya Manusia + Total Biaya Overhead Produksi
Tetapkan Harga Pokok Produksi Setiap Produk
Terakhir, silahkan menetapkan harga pokok produksi setiap produk melalui cara membagi total biaya produksi akhir dengan total kuantitas produk. Selain cara tersebut, Anda juga bisa menggunakan rumus biaya produksi ini.
Harga Pokok Produksi = (Jumlah biaya produksi + Sisa awal persediaan barang saat proses produksi – sisa akhir persediaan barang saat proses produksi) : kuantitas produk
D. PENGARUH PAJAK,ZAKAT, BUNGA BANK, DAN BAGI HASIL DALAM BIAYA PRODUKSI
Pengaruh Pajak Terhadap Komposisi Produksi
Pajak dapat mengakibatkan penyimpangan dalam penggunaan faktor produksi, yaitu penggunaan yang seharusnya dapat menghasilkan produksi yang maksimum menuju penggunaan yang menghasilkan produksi yang lebih sedikit,oleh karenanya pajak yang dikenakan jangan sampai mengakibatkan adanya penyimpangan penggunaan faktor-faktor produksi atau jika memang tidak dapat dihindarkan. Pajak yang dikenakan dalam perekonomian jangan sampai menimbulkanterlalu banyak penyimpangan- penyimpangan.Pajak yang dapat menyebabkan penyimpangan dalam penggunaan faktor-faktorproduksi terutama pajak yang dikenakan terhadap keuntungan-keuntungan yangtidak diharapkan, peningkatan nilai tanah, dan pajak yang dikenakan pada monopolistyang ternyata tidak mengakibatkan perubahannya jumlah dan harga barang-barang yangdihasilkan oleh seorang monopolis tersebut.Tentang seberapa jauh pengaruh pemungutan pajak terhadap beralihnya penggunaan faktor-faktor produksi terhadap kegiatan-kegiatan yang dikenai biaya pajak untuk kegiatan lain, dan juga seberapa banyak jumlah produksi barang-barang yang dihasilkan pada kegiatan-kegiatan yang dijadikan obyek pajak ituakan berkurang kan tergantung pada rendahnya elestistas permintaan danpenawaran terhadap barang-barang yang dihasilkan tersebut.
Pengaruh Bunga Bank terhadap Biaya Produksi
Bisnis Anda dapat menginvestasikan uang berlebih atau keuntungan di rekening yang berbunga untuk menghasilkan lebih banyak uang. Selama periode tingkat bunga tinggi, bisnis mendapat keuntungan dari investasi jika dibandingkan dengan ekspansi bisnis Anda.
Ketika suku bunga rendah, Anda mungkin cenderung menggunakan uang untuk peralatan baru dan perbaikan pabrik. Akan lebih menguntungkan bagi bisnis Anda untuk mengambil pinjaman baru dan berinvestasi pada bisnis Anda sendiri. Dengan begitu, jika bisnis Anda meminjam ke bank, maka akan dikenai biaya bunga yang lebih sedikit. Ini merupakan hal terbaik bagi perusahaan.
Jadi, Anda sebagai pebisnis harus mengikuti pergerakan suku bunga di Bank Indonesia. Setelah Anda menjalankan bisnis, Anda pasti tahu bagaimana pentingnya mengelola keuangan untuk bisnis Anda. Jika Anda mampu mengatur keuangan dengan proses akuntansi yang tepat, maka kerugian pun dapat dicegah.
Pengaruh Bagi Hasil bagi Biaya Produksi
Suatu perusahaan yang memilih sistem bagi hasil berdasar revenue sharing yakni bagi hasil yang akan dibagikan dihitung dari total revenue perusahaan sebelum dikurangi
dengan biaya operasional, maka
dimungkinkan terjadinya bagi hasil yang diterima oleh shohibul maal lebih tinggi dibanding dengan tingkat suku bunga pasar yang berlaku. Keadaaan demikian akan berpengaruh pada keinginan para shohibul maal agar mengalokasikan dananya kepada perusahaan syari‘ah di mana mampu memberikan bagi hasil yang maksimal. Hal
demikian juga tentunya akan berdampak pada peningkatan jumlah dana pihak ketiga dalam perusahaan syari‘ah tersebut.
Percepatan tumbuhnya dana pihak ketiga harus diimbangi dengan penyalurannya dalam bermacam produk keuangan sehingga
memberi tingkat profitabilitas yang optimal bagi shohibul maal
Sistem revenue sharing digunakan
berdasar pada pendapat Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa mudharib dilarang menggunakan dana mudharabah sebagai biaya operasional sebagai suatu nafkah dari harta tersebut baik saat menetap ataupun bepergian karena mudharib telah mendapat
porsi keuntungan lebih besar dibandingkan shohibul maal. Sedangkan profit sharing digunakan berdasar pada pendapat Abu
Hanifah, Malik dan Zaidiyah yang
mengatakan bahwa mudharib boleht
memakai dana mudharabah untuk
perdagangan diperjalanan sekalipun untuk biaya nafkah. Hanbali mengatakan bahwa mudharib boleh menafkahkan sebagian harta
mudharabah baik dalam keadaan menetap ataupun bepergian dengan seijin shahibul maal, namun besarnya nafkah yang boleh
dipakai berdasar pada besarnya nafkah yang telah dikenal para pedagang dan tidak boros
Selain bersepakat terkait nisbah bagi
hasil, mudharib dan shohibul maal juga wajib menyepakati pihak yang akan menanggung biaya lain-lain. Boleh saja disepakati bahwa biaya ditanggung oleh mudharib atau shohibul maal. Jika biaya
ditanggung oleh mudharib, maka disebut bagi penerimaan (revenue sharing). Sedang ketika biaya ditanggung shohibul maal,
maka disebut bagi untung (profit sharing). Dalam mu‘amalat Islam, sebenarnya akad mudharabah merupakan salah satu bentuk
dari akad musyarakah. Bila dalam akad mudharabah ditentukan bahwa penyertaan sipelaksana harus nihil, sehingga penyertaansipemodal harus 100%, maka dalam akad
musyarakah tidak ditentukan seperti itu sehingga yang terjadi adalah penyertaan dari dua orang pemodal
Pengaruh Zakat terhadap Biaya Produksi
Pengenaan zakat terhadap barang perniagaan tidak berpengaruh terhadap biaya produksi, karena zakat dikeluarkan terhadap keuntungan sehingga produsen tidak membebankannya kepada biaya produksi.
E. MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN
a. Membandingkan hasil penjualan total dengan biaya total, keuntungan adalah perbedaan antara hasil penjualan total yang diperoleh dengan biaya total yang dikeluarkan. Keuntungan akan mencapai maksimum apabila perbedaan antara keduanya adalah maksimum, maka keuntungan yang maksimum akan dicapai apabila perbedaan nilai antara hasil penjualan total dengan biaya total adalah yang paling maksimum.
b. Menunjukan keadaan dimana hasil penjualan marjinal sama dengan biaya marjinal. Cara ini dengan menggunakan kurva atau data biaya rata-rata dan biaya marjinal. Pemaksimuman keuntungan dicapai pada tingkat produksi dimana hasil penjualan marjinal (MR) sama dengan biaya marjinal (MC) atau MR = MC. Suatu perusahaan akan menambah keuntungannya apabila menambah produksinya pada ketika MR > MC yaitu hasil penjualan marjinal (MR) melebihi biaya marjinal (MC). Dalam keadaan ini pertambahan produksi dan penjualan akan menambah keuntungannya. Dalam keadaan sebaliknya, yaitu apabila MR < MC, mengurangi produksi dan penjualan akan menambah untung. Maka keuntungan maksimum di capai dalam keadaan dimana MR = MC berlaku.
F. MOTIF-MOTIF BERPRODUKSI
Motif-Motif Berproduksi
a.Motif maksimalisasi kepuasan dan maksimalisasi keuntungan yang menjadi pendorong utama sekaligus tujuan dari keputusa ekonomi dalam pandangan ekonomi konvensional bukannya salah ataupun di larang di dalam islam.
b.Motif keuntungan maksimal sendiri,sebagai tjuan dari teori produksi dalam ekonomi konvensional,merupakan konsep yang absurd.Secara teoretis memang dapat di hitung pada keadaan bagaimana keuntungan maksimal di capai.Upaya memaksimalkan keuntungan itu,membuat sistem ekonomi konvensional sangat mendewakan produktivits dan efisiensi ketika berproduksi